Jagung Hibrida PACIFIC 339

Image

Jagung PACIFIC 339 (PAC339) merupakan jagung hibrida yang unggul mempunyai hasil / rendemen tinggi, dengan karakteristik :

Characteristics
Average Yield : 10,846 kg/ha
Maximum Yield : 15,674 kg/ha
Dry Harvest : 115-120 days
Fresh Harvest : 105-110 days
Plant Height : 210 cm
Ear Height : 123 cm.
Flowering Date : 54 day
Husk Cover :very good
Ear Shape : girthy, cylinder
Kernel Type : Flint, deep kernel
Kernel Color : Orange-yellow
% Shelling : 86-87%
Root & Stalk System :good
Disease Resistance : resistant to rust
Insect Resistance : good

Characteristic :

very high yield
girthy ear
very high shelling percentage
good root and stalk
Stay on green
Drought tolerance
Wide adaptability

 

sources : http://www.pacthai.co.th/en/product1.htm

GEJALA KEKURANGAN UNSUR HARA TANAMAN JAGUNG

Gejala kekurangan hara tanaman jagung

Tanaman jagung termasuk komoditas pangan yang sangat respon dengan pemupukan. Gejala defisiensi tanaman akan suatu unsur dapat kelihatan pada organ vegetatif (daun) dan organ produksi (tongkol). Berikut diperlihatkan defisiensi hara tertentu pada tanaman jagung :

  • Kekurangan N (Nitrogen)
    Gambar kekurangan N Gambar kekurangan N
    Gejala kekurangan nitrogen (N):
    Daun berwarna kuning pada ujung daun dan melebar menuju tulang daun. Warna kuning membentuk huruf V. Gepajala nampak pada daun bagian bawah
    Gejala lain tanaman kekurangan nitrogen (N) yaitu tongkol kecil dan ujung tongkol   tidak berbiji.
    Gambar kekurangan N Gambar kekurangan N
    Gejala kekurangan posphor (P) : pinggir daun berwarna ungu kemerahan mulai dari ujung ke pangkal daun. Gejala nampak pada daun bagian bawa. Gejala lain tanaman kekurangan posfor (P), kesuburan polen menurun sehingga mengganggu persarian dan pembentukan biji, pembentukan biji tidak sempurna, tongkol kecil dan sering bengkok
  • Kekuragan Kalium (K)
    Gambar gejala kekurangan kalium (K) gambar gejala kekurangan kalium (K)
    Gejala Kekurangan Kalium (K):
    Daun berwarna kuning, bagian pinggir biasanya berwarna coklat seperti terbakar, tulang daun tetap hijau. Gejala warna kuning membentuk huruf V terbalik. Gejala nampak pada daun bagian bawah.
    Gejala lain tanaman kekurangan kalium (K) yaitu ujung tongkol tidak berbiji penuh, bijinya jarang dan tidak sempurna
  • Kekurangan S
    Gejala Kekurangan SUlfur (S) :
    Gambar gejala kekurangan sulfur Gejala kekurangan Sulfur (S):
    Pangkal daun berwarna kuning dan bergaris-gasir. Gejala nampak pada daun yang terletak dekat pucuk

Budidaya Jagung Hibrida

Latar Belakang

Jagung (Zea maize) adalah komoditas pangan kedua setelah padi. Komoditas ini mempunyai wilayah adaptasi yang cukup luas mulai lahan subur hingga lahan marginal. Dapat dikembangkan mulai agroekosistem lahan kering, lahan sawah tadah hujan hingga lahan sawah irigasi. Secara nasional pengembangan jagung pada lahan kering menempati urutan terluas. Namun akhir-akhir ini pengembangan jagung pada lahan sawah tadah hujan mendekati luasan pengembangan jagung pada lahan kering.

Pengembangan jagung pada lahan sawah tadah hujan semakin berkembang dengan munculnya Program SL-PTT jagung pada agroekosistem tersebut setelah padi rendengan. Pengembangan jagung dapat dilakukan dengan menerapkan sistem tanam tanpa olah tanah (TOT) dan sistem tanam olah tanah sempurna (OTS) tergantung kondisi lahan. Sistem tanam TOT pada agroekosistem lahan sawah tadah hujan dapat meningkatkan produksi jagung melalui peningkatan indeks pertanaman (IP) jagung.

Produktivitas jagung regional Sulawesi Selatan tahun 2010 baru mencapai 5,02 t/ha sementara potensi hasil jagung yang ditanam petani mencapai 9-10 t/ha. Tingginya selisih antara potensi hasil varietas dengan rataan hasil yang dicapai petani disebabkan penerapan teknologi masih fluktuatif. Penerapan sistem tanam TOT pada lahan sawah tadah hujan selain dapat mempercepat waktu tanam juga biaya produksinya rendah serta produksi pipilan kering yang dicapai sama bahkan lebih bagus dari sistem tanam olah tanah sempurna (OTS).

Penerapan sistem tanam TOT memiliki efisiensi waktu 15-20 hari bahkan 30 hari dibanding sistem tanam OTS. Dengan demikian penerapan sistem TOT pada jagung sangat efektif diterapkan pada daerah bercurah hujan pendek. Mempercepat waktu tanam jagung segera setelah panen padi pada lahan sawah tadah hujan dapat memanfaatkan sisa air tanah sehingga menghemat biaya pengairan. Penerapan teknologi tanpa olah tanah mematikan rumput (gulma) tidak dengan pengolahan tanah melainkan dengan menggunakan herbisida sistemik. Dengan demikian tekstur tanah tidak terganggu dan kelembaban tanah lebih stabil mendukung pertumbuhan tanamanTujuan

 

Penerapan sistem tanam jagung dengan tanpa olah tanah bertujuan untuk :

  1. Mengurangi biaya produksi dengan tidak mengurangi hasil pipilan kering.
  2. Mempercepat waktu tanam jagung setelah panen padi sehingga sisa air tanah dapat dimanfaatkan untuk pertumbuhan tanaman jagung.
  3. Meningkatkan pendapatan petani jagung pada daerah bercurah hujan pendek pada khususnya dan daerah bercurah hujan normal pada umumnya.

Pelaksanaan

Tahapan pelaksanaan teknologi budidaya jagung sistem tanam TOT pada lahan sawah tadah hujan adalah :

1. Pembersihan lahan

Lahan sawah tadah hujan yang akan ditanami jagung terlebih dahulu dibersihkan dari jerami padi sebelumnya bila panen padi dengan mesin dros. Tapi bilamana panen dilakukan dengan memotong batang padi dekat permukaan tanah dengan sabit, pembersihan lahan lebih mudah.

Gambar panen dengan sabit

2. Aplikasi Herbisida

  • Apabila herbisida untuk rumput/gulma pada lahan tanpa olah tanah sebaiknya menggunakan herbisida sistemik. Herbisida sistemik mematikan rumput/gulma hingga keakarnya. Takaran bahan aktif herbisida per liter air tercantum pada label pembungkus. Dosis herbisida yang digunakan tergantung ketebalan rumput/gulma, umumnya digunakan dosis 3 liter/ha atau 400-500 larutan semprot/ha. Tiga – empat hari setelah aplikasi herbisida dikontrol kembali rumput/gulma yang belum terkena semprotan. Satu minggu setelah aplikasi herbisida dilanjutkan dengan penanaman penanaman.

3. Pembuatan Saluran Irigasi

  • Sebelum penanaman dimulai pada lahan sawah tadah hujan, terlebih dahulu dibuat saluran irigasi keliling lahan dan saluran memotong lahan setiap jarak 2m dengan menggunakan hand traktor. Saluran tersebut berfungsi untuk mengairi tanaman bila kekurangan air. Berbeda dengan lahan kering yang dibuat saluran drainase untuk membuang air berlebih dimusim hujan. Agar diperoleh jarak 2m, terlebih dahulu dibuat ukuran yang diberi tanda agar saluran irigasi yang terbentuk lurus.
    Pembuatan saluran irigasiGbr.2. Pembuatan saluran irigasi tiap 2 m

    Penanaman

    Satu minggu setelah penyemprotan rumput/gulma dilanjutkan dengan penanaman diatas bedengan tanam selebar 2m (3 baris tanaman). Penanaman dilakukan dengan tugal 2 biji/lubang. Selanjutnya lubang tanam langsung ditutup dengan pupuk kandang agar mudah ditembus kecambah tanaman. Fungsi lain dari pupuk kandang selain sebagai penutup lubang juga sebagai pupuk dari tanaman yang baru tumbuh. Barisan tanaman yang memotong parit/irigasi, sebaiknya diadakan perbaikan parit/irigasi dengan cara meluruskan parit tersebut dengan cangkul.

  • Gbr.3. Penanaman Gbr. 4. Tanaman berumur 15 hst
    Gbr.3. Penanaman Gbr. 4. Tanaman berumur 15 hst

    Satu minggu setelah tanam dilakukan penyulaman dengan bibit yang seumur agar efektif pertumbuhannya. Agar diperoleh bibit seumur, maka akhir kegiatan penanaman pada lahan dibibitkan benih jagung dalam koker yang telah disiapkan sebelumnya. Dengan demikian umur bibit pada lahan seumur dengan bibit yang disemaikan dalam koker. Benih yang berdaya kecambah > 95 % akan diperoleh populasi tanaman 66.000/ha.

  • Penggunaan jarak tanamJarak tanam yang digunakan disesuaikan dengan kondisi lahan, sifat varietas dan musim. Pada kondisi lahan subur sebaiknya digunakan jarak tanam agak lebar dibanding lahan kurang subur. Pada tanah subur pertumbuhan tanaman lebih besar dibanding tanah kurang subur sehingga membutuhkan ruang tumbuh yang lebih lebar. Selain faktor kesuburan tanah, ada varietas yang secara genetis memiliki kanopi lebar sehingga jarak tanam yang digunakan lebih lebar dibanding varietas yang secara genetis memiliki kanopi sempit. Selain faktor kesuburan lahan dan sifat genetis tanaman, musim juga turut menentukan penggunaan jarak tanam. Pada musim hujan jarak tanam yang digunakan lebih lebar dibanding musim kemarau. Pada musim kemarau jarak tanam yang digunakan lebih rapat dibanding pada musim hujan. Hal ini disebabkan pada musim kemarau penguapan air tinggi dibanding musim hujan sehingga untuk mengurangi penguapan air digunakan jarak tanam rapat. Jarak tanam yang umum digunakan adalah : 70-75cm x 20cm, 1 tanaman/ lubang atau 70–75cm x 40cm, 2 tanaman/lubang dengan populasi= 66.000-71.000 tanaman/ha. Atau menggunakan cara tanam legowo 90–40cm x 20cm, 1 tanaman/lubang atau 100–40cm x 40cm, 2 tanaman/lubang dengan populasi = 71.000 – 77.000 tan/ha. Penanaman dilakukan dengan tugal dan tali jarak tanam yang telah diberi tanda sesuai ukuran yang akan digunakan. Berikut diperlihatkan beberapa jarak tanam yang biasa digunakan di lapangan. Penggunaan cara tanam legowo sangat efektif dilakukan untuk menujang peningkatan indeks pertanaman (IP) jagung pada lahan sawah tadah hujan. Cara tanam legowo selain memberikan border

    penggunaan jarak tanam

    bagi tanaman juga mempermudah penanaman selanjutnya sebelum tanaman sebelumnya panen. Border bagi tanaman berarti memperbanyak tanaman pinggir sehingga memberikan penyinaran yang merata bagi tanaman tanpa ada ternaungi.

  • PemupukanPemupukan dilakukan agar tanaman tumbuh dengan subur dan berproduksi optimal. Pemupukan didasarkan atas kebutuhan tanaman dan status hara tanah. Pupuk yang umum digunakan adalah pupuk tunggal yaitu Urea sebagai pupuk N, SP-36 sebagai pupuk P dan KCl sebagai pupuk K. Karena pupuk tunggal KCl sudah tidak tersedia dipasaran, maka pupuk Kalium diambil dari pupuk majemuk NPK. Pemupukan dilakukan dua kali yaitu umur tanaman 10 dan 35 hari setelah tanam (hst) pada jenis tanah yang didominasi liat dan tiga kali yaitu umur 7-10 hst, 28-30 hst dan 40-45 hst. pada tanah yang didominasi pasir. Pemupukan ketiga menggunakan BWD untuk menentukan kebutuhan N tanaman. Takaran pupuk tunggal per hektar yang umum digunakan adalah 350 kg Urea + 200 kg SP-36 + 100 kg KCl. Sedang takaran pupuk majemuk per hektar yang digunakan adalah 400 kg NPK 15:15:15 + 270 kg Urea + 80 kg SP-36. Kebutuhan pupuk jagung hibrida lebih besar dibading jagung komposit. Berapa banyak hara N yang dibutuhkan untuk memcu pertumbuhan tanaman ditentukan melalui pembacaan BWD (Bagan Warna Daun) pada umur tanaman 42 – 45 hst.

    Tabel 1. Takaran penggunaan pupuk tunggal

    Jenis pupuk Takaran Pupuk
    (kg/ha
    Takaran pupuk/umur tanaman (kg/ha)
    7 – 10 hst 28 – 30 hst 40 – 45 hst
    Urea 350 150 200 BWD
    ZA 50 50 - -
    SP-36 200 200 - -
    KCL 100 50 50 -

    Tabel 2. Takaran penggunaan pupuk majemuk NPK 15:15:15

    Jenis pupuk Takaran Pupuk
    (kg/ha
    Takaran pupuk/umur tanaman (kg/ha)
    7 – 10 hst 28 – 30 hst 40 – 45 hst
    NPK 15:15:15 400 150 250 -
    SP-36 80 - - -
    Urea 270 120 150 BWD